:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n: :o: :p: :q: :r: :s: :t: :u: :v: :w: :x: :y: :z: :1: :2: :3: :4: :5: :6: :7: :8: :9: :10: :11: :12: :13: :14:

Welcome In my blog

"Kata-kata bisa mengobati atau melukai, memberikan harapan atau merampasnya"

Aez Quote

Not trial and error but trial and learn

Total Tayangan Halaman

Lokinfo

Translate

Tag Cloud

Entry Populer

Sabtu, 07 Februari 2015

Ada Yang Salah

Akhir-akhir ini ada yang mengusik pikiran saya. Sesuatu tentang bergerak, keterbatasan, sempitnya pandangan dan memakna pasrah yang salah kaprah.
***

Siapapun pasti mendadak terkena tekanan mental saat mengetahui teman seangkatan sudah mengajukan judul, seminar proposal atau malah sudah memulai penelitian sedang diri masih istiqomah di BAB NIAT. Kemudian menenangkan diri dengan sudahlah, gak papa, kamu kan masih ada mata kuliah.

Kemudian sibuk berfikir mencari-cari solusi dengan banyak pertimbangan. Setelah sekian lama kemudian sadar kalau sebenarnya sudah melakukan hal yang sia-sia. Menerima kenyataan yang tak terduga wajar jika mengharuskan berhenti untuk mengatur nafas, tapi bukan berarti harus stuck untuk waktu yang lama. Sampai bulan udah ganti-ganti juga gak kan ada artinya jika melulu hanya ada di PIKIRAN, memikirkan seandainya begini atau begitu.

Berdo’a menjadi pelarian dari semua. Tapi ternyata itupun menjadi sesuatu yang salah. Meminta agar diberi ini atau ini atau memohon untuk bisa begini dan begitu. It’s stupid Gaes. Semuanya nonsense bila tak ada usaha yang dilakukan. Bagaimana mungkin Tuhan mau membimbingmu dalam melangkah sedang kau berdiripun enggan.

Ini hanya tentang sesuatu yang salah. Bagaimana semua menjadi ‘dimaklumi’ padahal nyata-nyata itu hanya membodohi diri sendiri. Berada di zona nyaman yang membuat ketagihan dan merasa ‘biasa-biasa’ saja saat yang lain sudah jauh didepan. Menganggap berdo’a saja cukup dan membiarkan Allah yang mengurus semua tanpa usaha. Menganggap kekurangan ini atau itu menjadi sesuatu yang bisa membuat kita tak tersalahkan karena tak berbuat apa-apa. Salah, sekali lagi semuanya salah.

Banyak diantara kita yang seperti ini. hanya tak sadar atau sekali lagi membodohi diri sendiri dengan tak mau sadar. Masalah bukankah sebenarnya hanya bahasa lain dari jawaban Tuhan untuk semua do’a-do’a kita. Allah Cuma pingin liat apa kita masih mau bergerak sampai tak ada yang bisa digerakkan lagi. Pertolongan Allah itu dekat, namun kita juga harus tau diri apa sudah pantas menerima pertolongan itu.

Makanya,

Ini Tuhan, kuambil yang paling sulit. Sampai aku dapat melihat dimana titik aku bisa menaklukannya. ~Aez--
Read more...
separador

Selasa, 03 Februari 2015

MENUNGGU


“Kenapa ya, kadang orang itu gak sadar kalau sedang ditunggu?”

***

Mungkin orang-orang terdekat sudah sering dengar saya nyeletuk demikian. Hehe ndak papalahya… dan setelah melihat, menakar dan menimbang saya jadi iseng ingin mengklasifikasi tingkatan menunggu ini, baiklah langsung aja :

Menunggu Stadium Satu
Ini adalah kasta terendah dalam hal menunggu, contohnya waktu kita mau berpergian dengan teman, ketika kita sudah selesai bersiap tapi teman kita masih juga belum selesai dandan.

Kita menunggu, tapi jelas apa yang kita tunggu, kita juga bisa berinteraksi dengan yang kita tunggu dan yang terpenting yang ditunggu sadar jika sedang ditunggu. Kalau begitu kasusnya kita masih bisa melampiaskan dengan cara nggedorin kamar mandi atau terus-terusan neriakin Jam. Ya kan? Pada tahap ini kita mungkin kesal, tapi setidaknya kesal yang tersalurkan. Hehe…

Stadium Dua
Yang udah pada skripsi atau KP mesti pernah ngrasain. Sms tempat penelitian tak kunjung dikonfirmasi. Konsultasi lewat imel gak dibalas-balas. Curhat lewat chat yang diajak curhat gak O-el-o-el. Disini kita jadi ngecekin HP, inbox, imel terus-terusan. Gadget jadi benda keramat yang harus dibawa kemana-mana.

Pada tahap ini biasanya kita tidak punya pilihan selain menunggu jawaban terlebih dahulu baru bisa move ketempat yang lain. TAPI jika masih pada tahap ini kita tetap bisa bersyukur karena setidaknya kita tau apa yang kita tunggu meski harus sabar atas jawaban, karena yang terpenting adalah kita sudah menyampaikan bila kita sedang menunggu. That’s the point.

Stadium Tiga
Ini adalah kelas tertinggi dalam klasifikasi menunggu versi Vivi. Pada tahap ini kita tau apa yang kita tunggu, tapi kita tak punya kuasa atau terlalu malu untuk mengakui jika sedang menunggu. Sialnya lagi, yang kita tunggu tak pernah tau jika sedang ditunggu. Parah.

Kita seperti sedang berjudi dengan nasib. Pada tahap ini perasaan kadang jadi lucu sendiri, mau marah nggak tau siapa yang bisa disalahkan. Mau terus menunggu kita tak punya jaminan apakah ini akan berakhir seperti yang diharapkan. Sedang jika ingin berhenti berharap sama saja seperti membohongi perasaan sendiri.

Vivi pernah ngrasain ini? Pernah. Contohnya? Waktu berharap kiriman datang ditanggal Tua, haha (Bapak saya biasanya nransfer pas tanggal muda sodara). Pokoknya sakitnya tu disini (nunjuk dompet).
***

“Menunggu itu menyakitkan, meninggalkan juga
Tapi lebih menyakitkan lagi saat kita gak tau harus menunggu atau meninggalkan…”

 ------


Dalam proses Menunggu Stadium 2
~Aez--
Read more...
separador

Kamis, 22 Januari 2015

N Titik

Apa kabar Iman?
Masihkah iya teguh mencontoh karang, yang justru semakin kuat ombak menerjang semakin membuktikan keteguhan dalam kebisuan.

Apa kabar Iman?
Akankah kemudahan teranggap sebagai kesempatan ataukah sebuah paradoks yang seharusnya diinsyafi sebagai cobaan. Sungguh, ini bukan tentang seberapa besar prestasi ibadah yang dilakukan, tetapi seberapa kecil dapat menghijabi dirinya dari kemaksiatan kepada Allah nan pemberi ujian.

Apa kabar Iman?
Masihkah terpatri bahwa segala yang terjadi adalah sebuah suratan. Tidak pernah keliru apalagi sebuah kesalahan. Lupakah bahwa yang merancang skenario adalah Tuhan pemilik Alam. Semoga teringat bahwa sabar dan syukur adalah sebaik-baik akhlak yang pantas ditunjukkan.

Sudut Ulil Albab
Pada Jum’at diwaktu Dhuha

~Aez--
Read more...
separador

Minggu, 18 Januari 2015

Holding

Perasaan saya jadi kacau setelah mendapat jawaban yang diucapkan seperti tanpa berfikir itu. Padahal sesaat sebelumnya otak usil sayalah yang mendominasi dimulainya pertanyaan tersebut. Awalnya saya ingin menggoda (seperti biasa) setelah membiarkannya ‘memainkan’ sebelah telapak tangan saya untuk beberapa saat. Dibayangan saya diapun akan membalas sama absurdnya.


***

Diambilnya sebelah tangan saya. Dipegang sana sini, ditimang-timang, dipukul-pukul pelan. Ini anak hobi banget kayak begini. Dimasukkan jari-jarinya diantara jemari tangan saya. Kita jadi seperti anak TK yang mau nyanyi pentas seni, bergandengan dengan tangan saling genggam.  Emm… mau kena dia kayaknya. Digoyang-goyangkannya pelan.

“Dek, emang kalau megang tangan Mbak berasa megang apa?”
Saat otak sudah mempersiapkan amunisi ejekan paling abstrak untuk menembak jawaban dia nanti.

“Tangan Ibuku”

Deg..
Spontan. Jawaban singkat yang dilontarkan sembari tersenyum.

Sedetik, dua detik..

Ya Tuhan, perasaan apa ini…

“Haissyyhh… sudah. Jangan sentuh-sentuh.”

Narik tangan, pergi dari situ.

...

Dasar #cengeng…
***


Bolehlah kita mengaku yang paling merindu,
Akan perjumpa’an, akan sebuah pelukan.
Namun hilangkan kata maha sombong –paling-  itu bila orang yang dimaksud masih bisa kita lihat meski dari kejauhan, atau kita dengar suaranya dalam diam.

Karena,
Apalagi yang lebih menyakitkan untuk rindu yang telah kita ketahui pasti tak memiliki ujung dalam bentuk sebuah pertemuan?


Aez--


Read more...
separador

Selasa, 23 Desember 2014

Unlimited Love

Membaca seperti ini tak kan ada rasanya jika dibaca sambil lalu. Duduk yang baik, Tenangkan diri, tarik nafas, tahan…tahannn… lepaskan… #Puuuuttttt.
Selamat pencernaan anda lancar !!!
***

Saya menyebut coretan kali ini surat. Surat untuk Ibu saya tepatnya. Hal mainstream yang juga dilakukan sebagian orang diseluruh dunia. Tapi saya tak berniat membacakan isinya saat menelepon nanti, apalagi pergi ke kantor pos untuk kemudian meminta mengirimkannya ke pulau kecil kami. Tidak.

Surat ini tak dibuat untuk memberi tahu pada Ibu saya apa yang sedang saya rasakan. Besar kemungkinan dia sudah tau apa yang selama ini saya pendam.  Surat ini ditulis demi menguras isi kepala saya sendiri. Demi mengurangi rindu yang ada didada ini. Surat ini hanya sebagai tanda, kalau saya punya Ibu yang luar biasa. Mungkin biasa saja bagi yang lainnya. Tapi Ibu saya adalah orang yang tak kan tergantikan dengan apapun juga.


***

“Bila ada satu hal yang tak bisa kuungkapkan, mungkin itulah perasaan”
-Aez--


Untuk Mama’ yang mestinya lupa kalau hari ini adalah hari Ibu…

Assalamualaikum Ma’…
Kemarin anakmu jadi juru sortir tak resmi disalah satu lomba ‘surat untuk Ibu’. Bagus-bagus isinya, bikin merinding dan mengharukan dibuatnya. Kebanyakan dari mereka mengawali surat dengan bertanya ‘Apa kabar’? ah terlalu retoris kalau akupun mengikut seperti itu, karena bukankah barusan Mama menelepon lalu bercerita sedang membuat pesanan, itu artinya kau sedang sehat-sehat saja. Iya kan?.

Taukah Ma, aku selalu berusaha jadi anak baik dan menjalani hidup seperti yang Tuhan suruh, biar Allah cinta sama aku dan Mama yang sudah melahirkanku. Lalu menukarnya dengan nikmat sehat yang tak habis-habis untuk Mama juga orang-orang yang Mama sayangi. Karena apalagi yang bisa membuatku tidur nyenyak malam ini selain mengetahui bahwa Mama baik-baik saja disana.

Tadi waktu mengecek  path isinya didominasi tentang Ibu, kebanyakan foto-foto mesra Ibu dan anak disaat momen bahagia mereka. Nyengir-nyengir basah Vivi lihatnya Ma. Jangan Tanya kenapa aku tak melakukan hal yang sama. Mama paling tahu tentang hal ini. Tapi tenang Ma, nanti kita balas mereka waktu Mama pulang saat wisuda. Kita selfie banyak-banyak dan aplot suka-suka. Plus tambahan caption ‘Rapel untuk satu, dua tiga, … enam tahun hari Ibu. *Rapel? Dipikir gaji*, yaa… namanya juga suka-suka. Iya kan Ma,? Hahaa



Mama,
Ingin sekali aku berterimaksih pada Kakek Martin Cooper yang sudah dengan cerdasnya menemukan benda bernama telepon genggam. Karena itu satu-satunya benda dimana aku masih bisa mendengar omelanmu atau kemudian kita dapat berbicara lama meski tanpa tema.

Benda yang mana darinya aku paham betapa sebenarnya kau selalu mengkhawatirkanku. Aku hanya bisa membantu dengan secepat mungkin mengangkat setiap namamu yang berkedip-kedip dilayar hapeku. Menepikan motor bila sedang diperjalanan. Menghentikan suapan bila sedang makan. Karena aku tau bagaimana cemasnya dirimu bila panggilan itu tak segera mendapat jawaban.

Makanya aku kadang tak habis fikir dengan mereka yang sering malas mengangkat telepon dari Mama mereka. Atau mengeluh karena dianggap masih seperti anak kecil yang selalu dipantau keadaannya. Padahal jika tau, masih banyak anak lain yang bersedia menggantikan posisi itu. Diomel tiap saat, bertemu tiap hari, disuruh-suruh tiap waktu. Ahh… bahagianya…


Aku paham Ma, bahkan sampai saat inipun dimatamu aku masih tetap anak kecilmu yang suka teledor ini itu kan. Terbukti pertanyaan sudah makan? sudah sholat? Atau tadi pagi sahur nggak? Menjadi mantra rutin yang selalu kau rapalkan setiap kita memulai pembicaraan. Semua selalu kutanggapi dengan tertawa terutama pertanyaan terakhir. Karena aku tau benar seberapa sakti omelanmu jika aku berkata ‘enggak’.

Tapi tenanglah Ma, aku sudah bisa menjaga diri. Bukankah Mama sendiri yang menasehatkan kalau aku harus bisa merawat diri sendiri saat jauh dari Mama. Nah, kini aku sudah terbiasa bangun subuh setiap hari. Mungkin memang tak untuk makan sahur seperti yang kau tanyakan.

Biasanya ada Mama yang cerewet dan begitu berisik memaksa untuk bangun dari tidurku yang katamu selalu seperti orang kena sirep. Susah bukan main. Tapi anehnya dengan jauh darimu justru sering aku tersentak bangun dengan sendirinya. Aku merasa seperti ada tangan halus yang mengelus pipi atau menggosok punggungku yang memaksa untuk terjaga. Padahal saat kubuka mata, yang ada hanya aku sendiri bersama subuh yang dingin. Ada yang hilang dari subuhku Ma. Sesak rasanya. Aku hanya bisa meredam dengan sujud-sujud panjang semoga Mama selalu disayang Allah disana.



Mama,
Vivi sekarang punya adik banyak sekali diasrama. Mereka semua luar biasa. Sebenarnya aku agak sedikit gengsi untuk mengenalkan mereka pada Mama suatu hari nanti. Takutnya Mama iseng jadi pingin ganti anak yang seperti mereka.  Haha… Aku tau itu hal paling konyol yang mungkin hanya ada dikepalaku. Tapi Ma, aku jujur untuk hal ini. Aku tak tau, mungkin karena aku ini pecemburu. Untuk itulah kenapa aku punya seleksi yang ketat untuk siapa saja yang boleh mengambil bagian dihatiku. Biarlah aku terkesan seperti es yang selalu beku. Aku Cuma tak ingin hati yang sebenarnya rapuh ini retak untuk hal yang tak perlu.

Oh iya Ma, adik-adik tadi sering sekali bercerita ini itu. Salah satunya bagaimana rindu mereka dengan Ibunya yang juga nun jauh disana. Dari rengekan mereka Vivi tau mereka tak main-main. Mana ada rindu yang main-main bila sudah dibarengi air mata. Setiap mereka menceritakan rindu itu aku sering kasihan dengan mereka Ma. Sudah berminggu bahkan berbulan-bulan mereka tak jumpa dengan ibu mereka. Mereka harus sabar menunggu libur lebaran atau waktu senggang yang sangat sedikit dari padatnya jadwal asrama. Vivi paham dengan semua rindu itu. Meski mereka terkadang menyangsikan dengan kalimat: Kalau Mbak Vivi enak, kalau ada apa-apa tinggal pulang. Kan rumahnya dekat. Ah Ma, kalau sudah di skak seperti itu aku bisa apa. Hahaha…



Tapi Ma, aku jadi belajar. Bahwa sebenarnya rindu yang meraksasa terkadang tak bersuara. Cinta yang murni  terkadang ada pada lembah yang sunyi. Mama mengajariku satu hal. Bila cinta berarti harus selalu bersama, harus selalu saling sapa atau penuh canda bagaimana menjelaskan tentang Akar dan daun yang tak pernah bertemu namun menghidupi atau matahari dan bumi yang tak mendekat untuk tak saling menyakiti?

Jarak berkuasa bukan untuk disalahkan apalagi dikasihani. Mereka hanya ingin ada jeda, supaya mereka punya makna. Adapun rasa bukan untuk diterka, jadi biarlah ia tetap indah sebagai sesuatu yang tak disangka. Suka tidak suka. Aku percaya bahwa jarak dicipta agar rindu tetap hidup dan tak pernah redup. Aku hanya perlu belajar untuk lebih sering mengucap namamu dalam doa. Benar begitu kan Ma?


Ma,
Hari ini adalah dimana orang memberikan kado spesialnya. Namun apalah, aku tak punya cukup uang untuk itu. Bahkan adapun untuk menyerahkannya aku ragu apakah mampu. Jangankan itu, memberikanmu kado ucapan selamat hari ibupun aku malu. Iya parah memang. Entahlah Ma, anakmu ini sedikit bermasalah dalam mengekspresikan cinta. Untunglah Tuhan mencipta aksara, satu-satunya tempat dimana cintaku bisa bersuara. Karena hanya dengan aksara aku bebas jatuh cinta tanpa interupsi. Maka tak heran dalam surat ini aku bisa berkisah sampai berlembar-lembar namun saat bercerita langsung denganmu aku hanya lebih banyak mendengar.


Ada yang Lucu saat Mama menelepon dan begitu cerewet menceritakan banyak hal. Sesekali memancing dengan berkisah si A yang sudah punya pacar atau si B yang sudah sering diantar si C. Kenapa Ma? Apa sebenarnya yang mau Mama tau? Mama takut anak nakalmu ini seperti itu atau Mama mau aku mengeluarkan satu cerita yang selama ini belum pernah aku singgung sedikitpun. Maaf Ma, untuk ini aku tak punya radar untuk membaca sandi yang kau kirim. Jadi yaa… :D

Entahlah Ma, aku hanya merasa baru Mama yang ikhlas mengakui kalau aku ini cantik tanpa peduli hitam putih, gemuk kurus fisik dari anakmu ini.  Mungkin benar memang, bukan cantik yang menjadikan cinta, tapi cinta yang membuatnya cantik. Dan rasa-rasanya belum ada yang mencintaiku sesabar Mama. Atau mungkin lebih tepatnya belum berani mengikrarkan dirinya bila ia sependapat dengan Mama. Pede sekali aku ini ya.. Hehe…



Enggaklah Ma, aku cukup tau diri untuk masalah ini. Karena dari segi apapun tak ada yang bisa kubanggakan seperti gadis-gadis lain. Aku bahkan tak berani walau sekedar membayangkan seperti apa calon anak laki-laki Mama nanti. Aku hanya berusaha memperbaiki diri sebaik yang aku bisa. Sisanya biar Allah yang menentukan yang terbaik dengan segala kejutannya. Yang jelas, dia InsyaAllah anak sholih yang juga sayang sama Mama.



Ma,
Tadi waktu Ai baca surat ini katanya suratku seperti anak kecil. Manja sekali. Mm…. surat ini memang kubuat dengan bahasa yang sejujurnya. Tanpa memperdulikan diksi, rima bahkan nada. Entahlah. Rasa-rasanya semua kedewasaan yang kupelajari selama ini hilang bila berhadapan denganmu, Ma. Menjadi seperti anak kecil dengan rengekan yang tak ada habisnya. Aku juga heran kenapa aku selalu begini dengan orang yang aku nyaman bila ada didekatnya. Semoga tak keceplosan dengan orang selain Mama ya.



Mama,
Terimakasih sudah memutuskan untuk memilikiku. Terimaksih sudah memperkenalkanku pada dunia. Terimakasih sudah mengajarkanku apa arti perjuangan.

Maafkan anakmu ini, yang selalu membuatmu was-was, yang selalu rusuh. Yang belum bisa seperti yang kau mau… ah..

Aku hanya bisa berharap untuk terus bisa memberikan yang lebih baik untukmu. Secerewet apapun dirimu, Mama tetap wanita nomor satu bagiku.

Aku tak bisa memilih siapa yang menjadi ibuku. Mamapun tak tahu anak seperti apa yang lahir dari Rahim Mama. Tuhan yang mempertemukan kita.

Dan aku bersyukur ditakdirkan jadi anak Mama. Tersenyumlah Ma…


Walau tak bertemu berbilang waktu
Aku tetap penggemar beratmu nomor satu,
Anakmu…
Read more...
separador

Selasa, 18 November 2014

Buncah

Surga dunia adalah duduk sendiri ditemani hujan. Pada malam hari meski tanpa bintang, tanpa bulan apalagi kunang yang nyata-nyata takkan ada karena telah mempersilahkan hujan. Setelah menanggalkan tas dan segala beban yang ada didalamnya. Setelah seharian berjuang demi angka tiga koma. Menyeduh minuman hangat walau kadang tak untuk diminum. Hanya sebagai alasan untuk tetap terjaga. Menunggu dingin sebagai teman bercerita.

Hey, pernahkah kau mendengar kisah tentang orang yang terjebak dengan perasaannya sendiri? Ada buncahan suka disana yang nanti secara teratur dan tiba-tiba akan disadari bahwa itu semua akan menenggelamkan mereka dalam kesemuan. Merasakan apa-apa yang tak pernah ada. Atau ada, tapi tak sebesar yang disangka. Lantas malu pada dirinya sendiri, perasaan yang tak tau apa-apa itu dibunuh, mati lalu dikubur. Tapi, tahukah kamu, bahkan semua reaksi sederhana itu tak semudah saat dituliskan.

Bagi mereka yang sedang terjebak dengan perasaannya, bertemu, tak sengaja bersitatap sepersekian detik bisa menjadi sumber lahirnya tafsiran-tafsiran yang sering membuat buncah. Sebuah pemberian, serangkai SMS sudah cukup mencipta selengkung senyum dengan sejuta alasan yang ada dibaliknya. Padahal, mungkin, semua alasan itu hanya ada dalam kepalanya. Utopis.

Kasihan memang mereka yang sedang terjebak dalam rasa yang dibuat oleh dirinya itu. Jika suatu hari Tuhan mengujiku dengan hal seperti ini maka pilihanku adalah membuat perasaan itu mati. Tak peduli bilapun sebenarnya ia nyata. Rasa itu sebenarnya memang ada, baik dikepalaku atau pada dirinya.

Ah, tapi buat apa aku bercerita ini. Menghabiskan waktuku pada malam dengan hujan yang tak selalu bisa kunikmati sendiri.Hanya saja, perasaan yang amat kubenci itu, katanya bisa saja mampir pada siapa saja, termasuk aku.
Dan katanya juga, sekuat apapun mengelak aku takkan mampu.

Merinding…


***

_Aez--

Posko SL-26
Read more...
separador

Tuhan dan Daftar Isi

Tak perlulah kutulis sebuah sajak sebagai penanda dramatis bahwa hidup ini sebenarnya adalah semau-mau Tuhan. Tak perlulah ada puisi, atau elegi yang mendayu-dayu sebagai prasasti yang kelak akan kita tangisi : bahwa dulu kita pernah menyalahkan Tuhan atas kesemau-mauanNya.

Kehidupan seseorang seperti buku yang dicipta oleh Tuhan. Tepatnya buku tanpa daftar isi. Bukan karena Tuhan melakukan kesalahan, tetapi karena Dia memiliki aturan main untuk kita, para tokoh utama pada setiap kisahnya. Aturan main itu –salah satunya- bernama pilihan. Sebuah keputusan yang boleh diambil, tidak pun silahkan.

Tanpa daftar isi itu kita dibiarkan meniti lembar demi lembar. Tanpa tahu potongan hidup seperti apa lagi yang menanti kita didepan. Kita tak bisa melompat pada judul yang kita suka dan meninggalkan yang –katanya- membuat sesak dada. Tuhan itu adil, mana mungkin ia membiarkan kita berbuat curang sedemikian. Karena dalam setiap potongan judul telah Tuhan sediakan cecap rasa yang akan kita mengerti  maksudnya mesti entah kapan.

Membiarkan kita tersaruk-saruk meniti lembar demi lembar penuh air mata atau membebaskan kita berlari dalam kenikmatan yang sering didustakan. Orang bijak mengatakan itu yang disebut menjalani kehidupan. Nikmati setiap langkah dan helaan nafas, pasti ada maksud dari semua yang ia gariskan. Sebab tampaknya Tuhan juga mencipta magis : menciptakan tautan-tautan premis yang tak logis.


Hidup ini memang semau-mau Tuhan, kawan. Tapi percayalah, ia pasti bertanggung jawab atas apa yang Ia lakukan. Asal kau mau mengikuti aturan mainNya maka Ia pun akan menyediakan ending yang jauh lebih indah dari yang kita sangka. Jangan lagi kau risaukan mengenai daftar isi yang tak ada, justru itulah bukti kasih sayang Tuhan pada kita, umatnya yang selalu senang dengan istilah kejutan.

***

_Aez--
Posko SL-26
Read more...
separador
Diberdayakan oleh Blogger.

Salam ^__^

Foto saya
Jogjakarta Hadiningrat, Indonesia
Terkadang tulisan seperti diam, adalah pilihan terbaik disaat hati dan lidah lelah untuk berkata.. Welcome In My Abstract Mind... ^^

Categories

Followers