:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n: :o: :p: :q: :r: :s: :t: :u: :v: :w: :x: :y: :z: :1: :2: :3: :4: :5: :6: :7: :8: :9: :10: :11: :12: :13: :14:

Welcome In my blog

"Kata-kata bisa mengobati atau melukai, memberikan harapan atau merampasnya"

Aez Quote

Not trial and error but trial and learn

Total Tayangan Halaman

Lokinfo

Translate

Tag Cloud

Entry Populer

Jumat, 28 Februari 2014

Pemburu Ilmu Perantauan

Disetiap malam, sering aku terjaga. Kedua katup mata seakan memiliki masalah pribadi yang menjadikannya enggan bersatu menutup pupil beserta keluarganya. Jalinan rumit sarafpun menolak untuk patuh pada otak yang memerintahkan menghentikan seluruh pekerjaan. Mencukupkan memori untuk hari ini.

Bila kelopak itu dipaksa untuk mencumbu sang pasangan akan tertangkap bayangan landskap yang sama. Aku berdiri pada lapangan dengan carut rumput yang tebal, menahan kakiku yang telanjang dari tanah yang dingin. Disekelilingku, memagari lapangan rumput tadi adalah deretan rumah-rumah papan yang berbaris membentuk persegi. Hamparan lagit biru menjulang mendominasi bagian atas, melengkung, lalu kedua kakinya bertemu dengan garis cakrawala jingga diujung kepala pohon kelapa yang berbaris bersaf-saf membentangkan kedua lengannya melindungi rumah-rumah papan. Dibelakangku, tertutup rumah, melewati satu dua pohon kelapa, setelah jalan setapak. Mengalir air kecoklatan dengan bau gambut dan hiasan ilalang. Lalu seperti sebuah nada, bergantian suara-suara riang menjadikan melodi yang tertahan. Jeritan senang, celotehan ceria, bunyi celeguk air yang ditingkah anak-anak tuna busana, suara tendangan bola, dan seribu paduan harmoni dari nada-nada permainan yang pernah terekam rumah keong telingaku. Terungkap satu persatu, bergantian.

Namun dari semua memoar yang berkelebat itu disanalah fokusnya. Pada satu titik dimana mataku menghadap. Tampak membisu sebuah rumah usang. Didepannya ada satu beringin dengan daun yang lebat. Tampaknya angin padang telah berhasil memaksanya menggugurkan daun-daun kuning pada halaman yang tanahnya masih terukir semburat sapu lidi. Pohon pinang merah menghiasi sisi yang lain. Tak seperti beringin yang tunggal, ia memiliki banyak saudara dalam satu akarnya. Pemandangan ini seperti memainkan metaforanya sendiri. Dua pohon itu seperti sedang berdialog, memperbincangan kondisi si rumah papan dengan khusyuk, sementara si rumah papan dengan tenang menghalalkan pergunjingan tentang dirinya. Namun semua terlihat indah. Tetap mempesona.

Dua sejoli tadi kembali menemukan masalahnya, ia tersentak terbuka. Menghilangkan pesona deja-fu yang kembali terhidupkan dalam studio otakku. Semuanya seakan-akan hanyalah sebuah solilokui visual yang nampak dalam ‘film’ masa lalu. Rumput hijau, awan seputih kapas, langit biru, dan alunan lagu alam hasil peraduan angin yang menggesek dedaunan yang merebakkan harmoni  ganjil namun dirindukan. Lindap dalam gelap.

***

Sejak saat itu kenanganmu terus memagut. Geming di antara nyata dan fana.
Memoriku menjelajah silam
Lambaian yang tertangkap dari buritan
Wajah tegar pada tempat terujung didermaga yang dipaksakan
Tangis dibalik pintu masuk bandara yang disembunyikan

Semua kurekam
Tanpa tanda, tanpa bahasa.

Segenap kerinduan ini bergemuruh.
Semoga malam memahami, menyatukan emulasi kehampaan yang kian mendominasi.

Kubanting guling sejarah ini hingga menutupi seluruh satuan yang berada pada kepalaku. Berharap dapat meredam semua bayang yang kembali berebut untuk hadir. Sekaligus menahan bening yang telah siap meluncur dari liangnya.

Aku ingin pulang.
Hanya itu....



Inspiring (SK)
 -Tulisan ini sudah pernah terbit dilapak ini dengan judul yang sama. Enjoy it~
~Aez~
Read more...
separador

Sabtu, 22 Februari 2014

Yuk, Mengumpat!

Mengumpat kalau bahasa asingnya adalah misuh-misuh. Biasanya terjadi saat kita hilang kontrol atau berada dalam kondisi yang ‘terlalu’. Entah itu terlalu marah, terlalu kesal, terlalu bingung, terlalu kaget atau seiring perkembangan zaman mengumpat juga digunakan pada keadaan terlalu senang. Namun secara umum yang namanya mengumpat sering dikonotasikan sebagai sesuatu yang negatif. Hal ini disebabkan karena aksi dari mengumpat berupa perkataan atau ucapan dengan kosa kata yang cenderung tidak enak didengar (Vivi, 2014). Hehe..
*skip*
Maaf pemirsah, menggunakan bahasa formal itu sangat mengganggu bagi saya. Mpun nggih, kita seperti biasanya saja.
***
Nah, tapi kenapa pada entry ini kamu malah ngajak anak orang buat misuh-misuh Vi?

Haissyyhhh bentar to, yuh dilanjut dulu....

Awalnya saya hanya melihat fenomena disekitar aja. Mengumpat a.k.a ‘misuh-misuh’ sebenarnya hanya kata yang saya pilih karena bingung mau pakai perumpamaan apa yang tepat untuk istilah perkataan tidak sadar  yang sering tanpa sengaja keluar dari mulut kita. Setiap kita sering lhoo melakukan ini. Hanya karena sifatnya tanpa sadar jadi yaa memang sering tidak disadari.

Contohnya nih, kalau lagi gemes sama kelakuan teman sering dengan nada bercanda kita ‘kelepasan’ bilang, “iiihhh dasar kamu kampretos cokolatos” atau bla..bla.. Meski tidak serius tetap saja itu adalah ucapan yang keluar dari mulut kita. Padahal katanya ucapan itu adalah do’a. Padahal katanya ucapan itu adalah isi hati kita. Padahal katanya ucapan merupakan cerminan akhlak. Padahal katanya lebih baik diam daripada berucap yang sia-sia. Padahal katanya setiap ucapan akan dimintai pertanggung jawaban. Padahal katanya akan jadi panjang banget jika mau ditulis katanya-katanya yang banyak itu. Hehe...


Nah, padahal hampir sebagian besar dari kita tidak lepas dari ‘latahan’ itu. Untuk teman-teman dari jogja mungkin tidak asing dengan umpatan “asem” atau “tobat” dan mungkin setiap daerah punya bahasa ‘misuh’ yang berbeda-beda. Karena sifatnya kebiasaan dan tanpa sadar maka memang sedikit sulit untuk dihilangkan. Bahkan mungkin hal ini sudah dianggap biasa dan dimaklumi oleh sebagian kita. Nah, bukankah lebih indah jika latahan misuh-misuh itu kita ganti dengan kata yang lebih bermanfaat. J

Hal-hal seperti ini meski terlihat sepele tetapi jika lebih dipahami memiliki efek yang besar lhoo. Salah satunya untuk kalian para (calon) Ibu. ^..^v
Ketika nanti kita sudah memiliki (banyak) anak hal-hal semisal ‘mengumpat’ dan ‘misuh-misuh’ terkadang tak terhindari. Padahal ucapanmu adalah do’a mustajab buibu. Apalagi do’a Ibu kan tanpa hijab. Inget yaa, anakmu kelak adalah ucapanmu saat ini. #catat

Mungkin banyak orang tua yang tidak sadar jika kenakalan anak mereka sebenarnya berasal dari ‘doa-do’a’ mereka. Kok bisa? Ketika si adik melakukan kesalahan misal, tanpa sadar si Ibu yang sedang capek berucap “wee lhaa asem tenan, bocal nakal ig”. Ndak tau kalau disebelahnya ada malaikat yang kaget terus bilang “aammiin”. Dan jeng...jeng... kelak si Ibu sibuk nyalahin si anak yang kelakuannya nakal gak ketulungan. Padahal?
 
Emaak, apa salahku?
Bukankah ini PR besar untuk kita terutama yang masih sering melafalkan kata-kata ajaib itu? Nah sayapun demikian. Meski tidak memiliki kebiasaan mengucapkan kata-kata khusus tapi saya takut lingkungan mempengaruhi saya. Mungkin ketika diasrama seperti sekarang masih aman karena lingkungan sangat kondusif, tetapi nanti ketika telah bermasyarakat dan saya tidak memiliki kebiasaan yang kuat. Walaaa... bisa berabe toh. Jadi saya menyimpulkan : ciptakan lingkungan atau kamu yang diciptakan lingkungan.

Kita sadar bahwa diri kita terbentuk karena pengaruh lingkungan. Hal-hal baik akan lebih mudah diterima atau diterapkan pabila lingkungan juga mendukung. Karena itu saya iseng mencari wangsit bagaimana cara jika ingin membuat kebiasaan baru pada lingkungan yang ada. Setelah bertapa disana-sini akhirnya saya menemukan jawaban. Simpel ternyata, MULAILAH DARI DIRI SENDIRI. J

Awalnya cukup sulit juga lo. Soalnya memakai kata-kata yang lidah kita jarang mengucapkan itu agak sedikit membutuhkan perjuangan. Hehe... awalnya kagok parah. Tapi kalau saya nyerah disini artinya misi ini gagal. Ooo...tidak bisyaah...

Seiring berjalannya waktu saya bisa sedikit tersenyum. Ketika sedang gemes akan sesuatu saya sudah bisa reflek mengucapkan kata-kata yang saya biasakan untuk itu. Mmm... mungkin sedikit saya jelaskan, selain ucapan yang diutamakan semisal Astagfirullah, Alhamdulillah, dsb. ucapan yang saya biasakan disini lebih terfokus pada ucapan untuk orang lain. Karena biasanya yang dilakukan orang-orang ketika sedang marah adalah mengabsen penghuni kebun binatang atau menggunakan perkataan sarkas lainnya.

Mari sedikit mengingat ‘umpatan’ Ibu Imam Sudais sang Imam besar Masjidil haram. Ketika Sudais kecil tak sengaja menaburkan pasir dijamuan yang telah siap dihidangkan padahal para tamu sudah hampir datang. Ibu Sang Imam yang terlanjur kesal akan kelakuan putranya reflek mengumpat “idzhab ja’alakallahu imaaman lilharamain,” (Pergi kamu…! Biar kamu jadi imam di Haramain…!)”. MasyaAllaahh... Lihatlah efek dari umpatan itu...

Hmm... bukankah semua anak akan rindu dengan akhlak seorang Ibu yang demikian? J

Salah seorang Mbak di asrama juga saya rasa cukup sukses dengan trendcenter kata-katanya yang selalu menggunakan kata “Ya Allah” ketika mengeluh. Misal.. ‘Ya Allah, aku capek ya Allah, huu..hu..’ dsb. Yang kemudian diikuti oleh seantero asrama. Gudjob Mba Ja.like it!! karena apapun hendaknya memang kembali pada Allah ^^

Jadi Yuk kita ciptakan lingkungan dkita pada hal-hal yang baik. Demi masa depan lho ini. :D Oh iya, yang tadi gak Cuma untuk (calon) Ibu aja ya (Calon) Bapak juga sama, gak lucu dong kalau ntar si Adek keceplosan ‘ngumpat’ disekolah dan ditanya jawabnya “Ayah juga ngomong gitu buguru”. ( :’D )
***
For last, thanks to yang udah sering jadi bahan praktek diasrama. Maap kalau jadi sering ‘teriak-teriak’ ; Nur’aini solihaaahh atau eskriim solihaah...
Sedikit berharap semoga yang lain segera ketularan. hohoo

-Calon ‘guru’ yang sedang belajar-
--Aez-
Read more...
separador

Jumat, 21 Februari 2014

MOVE ON!

Allah selalu punya sejuta cara untuk mengabulkan setiap do’a-do’a kita. Hanya saja terkadang kita telat utuk menyadari itu. ^^
--Aez-


 ***

Beberapa waktu yang lalu Qodarullah ponsel jadul saya yang paling keren tiba-tiba pergi tanpa pamit. Wahaaa... kalau ingat hari itu, meski covernya terlihat stay cool aslinya saya kelabakan parah. Kalau kata sagena temen saya, ‘tak ade hape tak idup, hape nyawe kedue kite tu’. Hohoo meskipun saya bukan hp addict tapi seperti itulah yang saya rasakan.

Mungkin memang salah saya juga menyimpan apapun disana. Meski hp buluk,  tapi dari nomer penting, segala macam password, No Rek. Sebanyak-banyak kombinasi imel, list tugas penting, draft qoute, memo, reminder dan banyak lagi dan lain sebagainya dan lain-lain itu saya percayakan sama dia semua. So, you can imagine that laah. Apalagi gaji bulanan waktu itu PIN nya juga baru dikirim kesana. Ndak bisa tidur sudah. hehehe


Setelahnya saya seperti orang patah hati. Ga selera makan, ga selera tidur tapi herannya badan tetep segitu-segitu aja. Selain hal-hal yang disebutkan diatas otomatis hubungan saya menjadi terputus dari apapun yang medianya menggunakan hp itu. Mana setelahnya gak segera mencari pengganti. Ndak minat e... Jadi cukup lama juga ‘jomblo’ nya. Tetapi setelah melihat teman-teman kesusahan untuk menghubungi terutama teman-teman divisi akhirnya iman saya goyah juga. :D

Maaf ya yang dirugikan saat itu. Sampe miskom kemana-mana,hehe.. yah... mungkin ini salah satu penyakit saya, kalau kata anak-anak tipe orang yang susah move on setia #plak.
Meski aslinya tidak mutlak seperti itu. Ingat, bajat juga sangat berpengaruh sodara-sodara. Hee~


Saya sering berdo’a agar Tuhan selalu menuntun saya kearah yang lebih baik, menggandeng saya untuk selalu berada dalam jalan-Nya, dapat meninggalkan yang tidak bermanfaat, tegas menatap kedepan dan segera move on dari apa-apa yang membuat saya sulit bangkit.

Dan tarrrraaaahhhhhh...... Allah kasih cara paling efektif bin mujarab untuk masalah ini, dimusnahkanlah si HAPE tercinta. Hikz... karena bagaimanapun juga memori hp itu telah ada sejak jaman muda dulu. Jadi yaaa... bisa dibayangkan apa saja yang berada didalamnya. Selain Allah ingin melepas saya dari semua kenangan yang tidak penting, dari sms-sms yang masih tersimpan dari tah kapan, mungkin Allah juga ingin melindungi aib orang-orang yang pernah saya jahili dulu. Hehe. Haisshh... bukan aib yang gimana-gimana juga, kadang kan kalau iseng orang lagi ngiler suka tak jepretin kemana-mana. Begitu.


Ah, Allah itu selalu keren kok. Mungkin dengan hape itu hilang dan selamanya tidak kembali adalah yang terbaik untuk saya. Allah ingin melindungi saya dari suatu keburukan yang mungkin dapat disebabkan dari hp itu. Entah seperti apa bentuknya. Tetapi yang paling penting Allah benar-benar memberikan cara yang paling ampuh untuk saya move on dari beberapa hal yang berasal dari masa lalu yang masih terdokumentasikan oleh hp itu. :)

Dengan sebelumnya takdir Allah menetapkan Netbuk saya rusak, flashdisk khusus bekapan ‘memori’ hilang dan yang terakhir hp pun pergi meninggalkan, saat ini saya benar-benar menjadi seperti orang tanpa kenangan selain yang tersisa diotak dan mungkin sebentar lagipun akan segera terhapus oleh sistem yang sedang saya rancang #halahh.
Pokoknya selamat tinggal semuanya. hehe


Pun, jika hp saya bisa mengucapkan pesan-pesan terakhir mungkin dia juga bakal bilang :
Kamu pasti bisa hidup tanpa aku, bahkan lebih baik. Tenang... apapun yang pernah terjadi diantara kita, tetap akan menjadi rahasia selamanya. Tetap hanya aku, kamu dan Allah saja yang tau. Aku pamit ya... jaga diri baik-baik. Nanti kalau udah ada yang baru jangan suka ‘ketlingsut’ lagi”
-Edisi melebaiii-

Hehooo... ya..ya percaya, karena meski nanti ada yang nemu, hp itu tetap saja tidak bisa dioperasikan. Selain sandi bertebaran dimana-mana, dipaksa bobol juga hpnya bakal error. ^^

Sekarang hubungan saya dengan hp sudah tidak seperti dulu, kalau dulu kemana-mana dibawa yang sekarang jadi ditinggal kemana-mana. Haha.... jadi jangan heran kalau akhir-akhir ini ada telpon jarang diangkat atau sms balasnya luamma. Soalnya selain pergipun hp jarang dibawa untuk saat ini saya masih sering bingung keberadaan si hp ada dimana. Sampai nanti biasanya ada yang teriak “Nih Mbak, hp mu disini niih, ada sms/telpon nahh” dan setelahnya (biasanya) saya syudah lupa lagi dimana naruh hp ajaib itu. :D Ah sudahlah, intinya saya sudah bisa pergi dan tidak ketergantungan dengan benda yang namanya HP.
***

Itulah Allah kawan, jika ada sesuatu terjadi pada kita dan kita sabar dalam memahami, sebenarnya Allah sedang merencanakan suatu kebaikan untuk kita. Syukuri saja. Juga mari mulai menerima semua musibah dengan prasangka baik, selalu ingat bahwa Allah tak pernah salah dengan ketetapanNya, sekali-kali tidak. Apapun itu.....
Dan hati-hati dengan setiap do’a yang kalian pintakan yoo. ^^


Thanks Allah, Love you mu mu muuah pokoknya.... ^^
*alaynya tetiba kumat*


-Aez--
Read more...
separador

Sepotong Hati yang Baru

Bro,
Meskipun status kita sama-sama mahasiswa FIAI UII tapi sekalipun kita belum pernah bertegur sapa, bahkan hampir setengah semester berlalu rasa-rasanya aku belum pernah bertemu denganmu dalam kesempatan apapun. Atau karena pergaulanku saja yang kurang luas ya?

Magrib itu sedang bertugas di rusunawa. Baru saja halaqoh dibuka aku sudah diberondong oleh adik-adik panduanku yang berebut menanyakan tentang seseorang yang kecelakaan sore itu. “Ih Embak, kan sama-sama FIAI masak gak tau” kejar mereka ketika rasa penasarannya hanya kubalas dengan jawaban ‘tidak tahu’. Ya, karena itu memang berita pertama yang kudengar.

Kegiatan rusunawa dilanjutkan dengan sholat magrib berjamaah di Masjid kampus, Masjid Ulil Albab. Setelah sholat selesai pengurus masjid mengumumkan akan dilaksanakannya sholat ghoib untuk seseorang yang kecelakaan sore itu. Ah, pada akhirnya kita berkenalan kawan, aku tau namamu meski itu diberita kematianmu.

Sudahlah, tak usah terlalu panjang. Aku hanya ingin mengatakan begitulah kematian. Ia datang entah kapan meski pada waktu yang telah ditetapkan. Misteri namun pasti. Tak peduli pagi itu kau masih duduk mendengar kuliah bersama yang lain. Karena tentang kematian sebenarnya setiap kita sedang berada dalam antrian yang terus memendek. Ketika telah waktunya ia  tak kan mundur sedetikpun, tegas tanpa toleransi. Bahkan kematian tak peduli kalau kau belum menerima IP pertamamu, ya kan Bro?

Semoga kematianmu menjadikan pelajaran bagi yang masih hidup. Terutama untukku. Karena ternyata kita tak pernah tau bagaimana kita mengakhiri kehidupan ini atau bagaimana kita akan dikenang nanti. Yang bisa diusahakan hanyalah melakukan yang terbaik.

Hidup ini hanyalah tentang sebuah perjalanan yang pasti akan kita akhiri. Semoga Allah tetap menjaga hati kita dari segala macam kotoran. Karena tak kan ada yang ingin ‘pergi’ dengan sebelumnya berprasangak buruk meski sedikit, ya kan?

Karena kita tak pernah tau kapan ‘waktu kita’’ maka semoga Allah tetap melimpahkan bergudang-gudang prasangka baik yang akan menjelma menjadi kebaikan. Semoga Allah menutup mata hati kita dari segala keburukan.

Ya Allah... izinkan kami untuk memiliki hati yang tak bisa membenci, yang tak pernah membenci. Karena kami ingin kembali dengan sebaik-baik cara kembali.
Aamiin...


Mengenang
Teman seperjuangan  kami,
Ikhsan Akbar Wahid
Ekis 2013 FIAI UII
Berpulang, Nov 28 2013
Read more...
separador

Senin, 20 Januari 2014

Syalala~

ULAH PARA PENJAHAT BLOG YANG HOBI NGUTAK ATIK FILE ORANG. HEERRMMMM...
MAU DIHAPUS JUGA STAT-NYA UDAH BANYAK.

JUST ENJOY IT....




Mba Vi kata temenku ini bagus. jadi aku taruh sini aja ya.
Read more...
separador

Jumat, 27 Desember 2013

Berteman Seperti Anak Kecil



Kawan yang tulus kadang memang lebih menyebalkan dari pada musuh yang menyamar. Bekal utama kebersamaan adalah kesabaran. Sebab kita tahu, berjalan bersama itu jauh lebih lambat dibanding sendirian. Berkawan insan-insan mulia harus disertai kesadaran, bahwa kita selalu harus “sedang menuju” kemuliaan. Bukan telah sampai.


Namanya Wulan, murni ANGGUN alias anak nggunung tulen. Hobinya bolak-balik mudik dan ngadu kalau uang jajannya kurang. guyoon Lan. Selalu sekelas kecuali di mata kuliah Agama dan Sains. Anaknya, subhanallah..... kalau dibuang Bapak Ibunya paling juga gak ada yang mau ngambil. Hehehe *guyon lan, guyooon*

Entah karena apa saya bisa menyebutnya teman. Jika janjian, maka saya harus sudah siap senewen nungguin dia gak dateng-dateng sampai hitungan jam. Bahkan beberapa kali (penghalusan dari kata sering ini) dia ‘lupa’ kalau punya janji dengan saya. “Lan, mengko mantukke nebeng yo?” (Lan, nanti pulangnya nebeng ya?). “Ya” atau “Lan, ntar berangkat ngampusnya dijemput ya”. “Ya”.

Hasilnya? sebuah SMS : “Vii, kowe nengdii? Sory Vi, mau lali, sakiki aku wis tekan kontrakan” (Vii, kamu dimana? Maaf Vi, tadi lupa, skarang aku udah sampai dikontrakkan). *hah, what the...?* Atau “Vivi, sorry Vi, aku lali methuk. Iki wis nang kelas Vi, wis Mlebu” (Vivi, maaf Vi, aku lupa jemput, ini udah dikelas Vi, udah masuk). *ngelus dada*

Belum lagi style-nya yang duh-duh, jogjanan versi overdosis wis. Sukanya apa-apa luamma syekalii. Jadi kata-kata “ayooo laannn, cepet laannn, wis telat ikii” yang berkali-kali hanya akan mendapat satu respon. “Iyo Vii, iyo. Dilit ngkas. Sabar tho”. (Iya Vii, iya. Sebentar lagi. Sabar tho). Bayangpun sodara-sodara, padahal kan saya paling sesuatu sama yang model begini. (-..-) Dan inilah teman saya. :)

Tapi, siapa orangnya yang bisa melebihi sabarnya wulan ke saya.

As you know, saya itu punya model yang ehm, cuek sebenernya. Jadi yahhh, sudah berkali-kali saya katakan, menyentuh hati saya itu butuh perjuuangan, tapi ketika kau telah mendapatkannya maka harus siap dengan segala konsekuensi dari semua itu.

Contoh kecil. (sebenarnya semua dialog lebih banyak menggunakan bahasa jawa, tapi saya malas mengetik dua kali, ndak papa ya). V (Vivi), W (Wulan)

W : Vii, reti ra? (Vii, tau gak?) (pertanyaan yang sering digunakan kalau kita mau memulai cerita)
V : Ra’ (Enggak)
W : ya wes, sini tak kasih tau...
(dan dia akan cerita panjang lebar meski tanpa persetujuan)

Saat dia ‘melupakan’ sesuatu dari saya, biasanya dia bakal sms sesuatu tentang ‘maaf’. Berkali-kali. Tapi:
W : Vi, kowe isih nesu karo aku yo?( Vi kamu masih marah sama aku ya?) sory ya Vii?
V : Enggak
W : Kok sms ku ndak ada yang dibalas?
V : Oh, gak punya pulsa
W : (dari mukanya sih udah kayak mau nelan rumah, hoho)

Suatu kali kita berada diruang microteaching. Dia bawa laptop, dia juga ngadep PC lab. Dan duduk disebelah saya. Tapi anehnya tetep aja ‘ngrusui’ PC yang saya pegang. Nanya ini itu, berkali-kali. Padahal saya kalau mengerjakan sesuatu paling gak bisa kalau disuruh banyak fokus.
V : haissh, itu lo lan mbok pake PC mu.
W : Emoh, belum diinstal aplikasinya..... then, Vivi ini dari mana?
V : (dijelasin sekenanya)
W : *gak dong* bukane bla..bla...
V : iya, ini gini , ini gitu
W : loh, iki kan...bla..bla
V : *gemes* ah, udah. Buka sendiri sana. Gak boleh liat-liat sini! (saya fikir dia bakal ngambek gitu, tapi)
W : emooh...
V : ...

Tapi, siapa orangnya yang bisa melebihi pengertiannya wulan ke saya.

Bukankah teman itu sebenarnya hanya masalah memahami. Dan karenanya kamu tak perlu menjadi orang lain. Tetapi, menginginkan dipahami tanpa mau memahami juga menjadi sebuah kesusahan. Betapa nanti banyak hati akan tersakiti saat kata paham itu hanya bekerja disatu sisi.

Wulan hobi cerita ini itu meski saya sibuk dengan coretan, buku atau laptop ditangan saya. Dan dia tetap bercerita walau terkesan ‘sedang ngomong sendiri’. Tak sebal karena dia mengerti walaupun saya terkesan tak peduli sebenarnya saya menyimak semua yang dia ucapkan.

Wulan yang tak pernah lupa membawakan ‘sekantong kecil’ masakan Ibunya saat idul adha. Meskipun saya sering protes ‘kenapa kok dikit banget’ dia tau kalau sebenarnya saya senang tak kepalang. Paling rapi ketika mencatat materi dikelas yang kemudian sering saya culik karena catatan saya sulit dibedakan antara lukisan abstrak atau diktat kuliah. Tetap meminjamkan sebab paham karena mata ini memang memerlukan bantuan.

Berteman hanya masalah memaafkan. Karena dalam menjaga hubungan bukanlah berebut tentang siapa yang benar, tetapi  dulu-duluan berebut 'saya yang salah'. Jangan sungkan bertanya langsung, bertabayun. Atau kehilangan seratus rupiah untu sms tak masalah asal hati ini tenang. Karena Allah pun melarang hidup dalam bersangka-sangkaan.


Dalam sebuah hubungan, berselisih itu hal biasa. Syaratnya jangan lama-lama. Karena bila ia berkelanjutan akan melahirkan masalah-masalah yang lain. Hebatnya seorang Wulan dibuktikan disini. Meski saya suka diem gak jelas, sedang sedikit sebal dengan dia (aslinya gak gitu sih, iseng aja biar dia ribut sendiri, hehe), hiperaktif-lah katanya, ADHD-lah katanya, autis-lah katanya tetapi dia tidak pernah meninggalkan saya. Kita tetap duduk bareng meski sedang ‘ngambekan’. Dia tetap narik sana-sini meski saya sedang sebal. Dan bagi seorang saya inilah teman.

Setiap orang memiliki prinsipnya sendiri, hal-hal yang dia yakini, maka jangan diganggu. Prinsip saya sederhana, jangan tinggalkan saya dalam keadaan apapun. Cukup.
 Catatan, bagi saya mendiamkan sama arti dengan meninggalkan. Titik.

Berteman itu adalah saling menasehati. Marahnya teman dalam mengingatkan adalah tanda cinta. Tak paham kah? “Vi, apa yang kamu takuti?” maka saya jawab : “Berhenti dicintai”. Mungkin saya akan sakit ketika saya diingatkan dengan cara yang tak berperikehatian, saya sakit saat sikap saya disalah-salahkan tetapi saya akan jauh lebih sakit saat semua yang saya lakukan sudah tak ada yang menghiraukan. Saya dibiarkan melakukan apapun sesuka hati. Ya, saya takut seperti itu, berhenti dicintai.

Berteman adalah berbagi. Tetapi salah satu harus memulai; sepertinya lebih mudah bukan dengan meminta tapi memberi. Siapa yang tak sabar belajar, harus sabar dalam kebodohan. Siapa yang tak sabar dalam bersaudara, maka harus sabar dalam kesendirian. Maka ketika saya sudah memulai, kelanjutannya saya letakkan ditangan kalian. Hanya harapannya, semoga apa yang saya mulai segera disadari sebelum ‘mulai’ itu mengakhiri dirinya sendiri.

Vivi dan Wulan. Semoga pertemanan kita tetap seperti anak kecil. Tetap bersama meski sering bertengkar. Segera melupakan ketika salah satunya melakukan kesalahan. Berbagi meski itu hanya sebesar biji. “Pokoknya Wulan, yang boleh diem cuma saya, kamu gak boleh apapun alasannya”. Saya yakin, jika membaca ini dia tidak akan mengatai saya egois, karena dia paham semua maksud yang saya tuliskan. ^^

Untuk semua teman yang hatinya telah bertautan. Jangan jadikan dirimu layak untuk ditinggalkan. Sebab semua adalah pilihan. Untuk terus disayangi atau terpaksa bersendirian. Memahami maka kau akan dipahami. Sebab temanmu juga manusia yang memiliki titik jenuhnya masing-masing. Bila ada yang kau tak suka darinya maka ucapkan, sebab dia bukan malaikat yang dapat membaca hati dan fikiran. Marahnya mereka adalah perhatian yang menyamar, betapa ia tak ingin kau terperosok lebih dalam. Jika caranya dalam menyampaikan bagimu adalah kesalahan, maka maafkan. ‘Alim mengatakan, bukan cara atau orangnya yang harus kau perhatikan, tapi maksud dari yang ia ucapkan. Bahkan mutiara dari pantat ayampun penuh gizi bila kau sudi memakan. Bila hatimu sakit berkelanjutan atas nasehat yang diberikan, maka ada yang perlu diperiksa dalam dirimu. Mungkin ia sedang gersang.

Tulisan yang ini lebih banyak menunjuk muka sendiri. Semoga diri ini bisa menjadi temn yang baik.

Untuk semua teman,
Saya tak pernah meminta untuk dipahami maka apabila tak ada yang memberi arti saya sudah tak kaget lagi. Tetapi bila kau tetap nekat mencoba untuk mengerti. Inilah saya, dengan sepenuh kekurangannya.
.
Maaf ya Wulan bila caraku dalam menyayangi sedikit sulit untuk dipahami. ^^
~Aez~
Read more...
separador

Rabu, 11 Desember 2013

Jadi Guru



Saya adalah orang yang tak pernah bercita-cita menjadi guru. Bahkan sampai hari ini. Karena bagi saya dulu, kerja begitu-begitu dan begitu-begitu saja adalah membosankan. Ga menantang. Titik.
 
***

Sedikit cerita, dikampus saya itu ada satu program wajib yang disebut pesantrenisasi. Tapi saya lebih senang menyebutnya Rusunawa (Singkatan dari Rumah Susun Mahasiswa deh kayaknya. CMIW). Jadi selama (kalau sekarang) empat hari tiga malam anak-anak baru yang katanya masih lugu tralala itu pada nginep digedung yang disebut rusunawa tadi. Ngapain aja mereka? Nah, selama disana mereka diajar seputar keislaman dasar sesuai dengan tingkatan mereka. Tingkatannya sendiri ada dasar, menengah dan lanjut. Jadi ya belajar tentang fiqh, ngaji, hapalan de es be.

Jaman saya dulu mah beda, rusunawanya 10 hari tapi hanya dari jam 5 sore sampe 6 pagi aja. Jadi malamnya rusunawa paginya kuliah. Kalau dulu masih dicampur sesuai tingkatan. Jadi semua jurusan dijadiin satu. Saat itu barengan dengan anak arsitek, MIPA, hukum, komusikasi sama Ekonomi.  Kalau sekarang kan per fakultas ya. Mungkin biar koordinasinya lebih mudah karena mereka selama 4 hari gak pulang yang berarti gak kuliah juga.

Masih inget banget waktu itu, dikarenakan kami paginya tetap kuliah otomatis gak lepas dari tugas-tugas dong. Jadi gak heran kalau pas sore-sore kita balik ke rusunawa itu bawaannya segambreng. Yang paling heboh ya jelas anak-anak arsitek, bawa maket, tabung dll. Terus kan kegiatan rusunawa malam berakhir jam 22.00. Seharusnya digunain untuk istirahat karena besok paginya kita bakal dibangunin jam 3 an buat tahajud. Tapi tuntutan tugas merubah segalanya kawan-kawan *lebai*. Ketika halaqoh diakhiri maka disanalah kehebohan bermula. Dan seingat saya waktu itu kita lagi UTS apa ya. Jadilah kita bertebaran kemana-mana sesuai habitat dan koloni. Para MIPA sibuk dengan laporannya, anak-anak Arsitek dengan maketnya, ekonomi dan hukum juga ga jelas pada ngapain, dan anak-anak komunikasi sesuai dengan tabiat jurusannya, berissiik. Sedang kami-kami (saya dan teman-teman) ngerjain tugas apaa gitu dan malangnya buku yang dijadikan sumber cuma ada satu. Jadilah seluruh anak PAI numplek disatu kamar. Heboh. Sampe para musrifah (kakak-kakak yang mandu) nyuruh kami diem dan kembali kekamar masing-masing.

Kalau dilihat dari kegiatan diatas bisa diprediksi kan apa yang bakal terjadi dengan para mahasiswa yang lagi kedapatan jadwal rusunawa ini saat dikelas? Yap, bener. Tidur berjamaah. Apalagi dikelas saya yang notabenenya non ecsact. Wiss... dipastikan ditinggal tidur Dosennya.

Lah... malah kepanjangan. Oke skip and back to topik. Nah tadi diatas udah denger kata-kata Musyrifah kan ya. Musyrifah itu gampangny adalah kaka-kakak pemandu yang ngebantuin adek-adek buat belajar ngaji dan hafalan. Satu Musyrif/ah memandu satu halaqoh. Sedang satu halaqoh itu sendiri terdiri dari sekitar 10 orang. Biar lebih intensif gitu. Dan saya terdaftar menjadi salah satu dari mereka. Tau tuh, pas tes kok ya lulus. J

Nah Musyrif/ah itu juga mandunya terjadwal. Ketika ada Rusunawa kita bakal dapat calling dari koor-nya. Saya sendiri juga lupa sudah berapa kali kedapatan jadwal mandu. Bahkan saking banyaknya sampe lupa siapa aja yang pernah jadi adek panduan saya. Maklum orang sibuk, jadi gak sempet nginget-nginget begituan. hehe

Meskipun saya suka melupakan adek-adek panduan saya ini hebatnya mereka tidak. Alhasil sering banget dijalan ada yang hai-hai atau da da – da da dan reflek tak jawab hai atau da-da balik tapi setelahnya mikir ; “itu tadi siapa ya” #gubrakk

Kejadian ini kurang lebih seperti itu juga. Waktu itu saya lagi jajan di syar’i Mart (mini marketnya kampus saya). Nah setelah bayar dikasir dan puas ngecengin Mba-mbanya sayapun siap-siap keluar. Pas didepan pintu tiba-tiba aja “Mbaaak Viviiii”. Saya noleh. Ada adik cantik, putih, manis #hallah lari-lari kearah saya. Saya nyengir doang waktu itu. Sambil mastiin juga kalau yang dipanggil emang beneran saya. Langsung pas udh deket dia langsung heboh sendiri. Lupa gimana dialog pastinya, tapi kira-kira gini ;

Si adik cantik, putih, manis (A), Saya (V)
A         : “Mbaa Viviii tadi aku bisa test ngajinyaaa” (sambil mukanya sumringaah banget)
V         : “Oh ya” (masih tampang oon)
A         : “Iyaa Mbaak, ya Ampuun Mbaak. Aku seneng bangeet” (sambil megang tangan saya saking exitednya)
V         :” waah... selamat kalau gitu yaa” ^^ (baru ngeh, ini adek panduan saya tadi malam ternyata. Parah, udah  main lupa aja :D )
A         : “Iya, makasih bangettttt lo Mbaak. Aku cuma ngikutin yang Mbak bilang. Padahal aku takut banget Mbak pertamanya. Pas masuk aku disuruh ngaji. Ngajinya kayak yang mbak ajarin itu. yang awal suratnya alif lam mim itu, untung aja gak aku baca a-la-ma lagi. hehe. Terus pas hafalan surat-surat aku cuma disuruh baca yang paling panjang yang aku hafal. Gak dipilihin Mbak. Jadi aku baca Ad-dhuha yang diajarin sama Embaak. Maksih banget pokoknya Mbak. Makasih udah ngajarin aku ngaji. Doain lulus ya Mbak”. (Adeknya ngomong cepet banget, saking senengnya jadi gimanaa gitu. :D)
V         : “Iya, selamat ya...”
A         : “Iya Mbak. Pokoknya makasih udah ngajarin aku ngaji. Aihh... sini peluk dulu sama aku mbak. (tiba-tiba dia main peluk-peluk aja, saya yang spechless, ditambah tangan kanan bawa belanjaan dan yang kiri nenteng fotocopian bikin saya ga bisa bales pelukan dia. Jadi bisa dibayangin lah, ditambah didepan umum jadi pada diliatin gitu, hahah).
Ya udah ya Mbak, aku mau kuliah dulu. Dada Mbaakk.”
V         : “iya” *masih speechless*


***

Setelah itu entah kenapa dada saya rasanya dingiiinnn banget. Berasa gimanaaa gitu. Pokoknya aneh. Entah kenapa saya jadi seneng (serius) waktu denger dia jadi bisa ngaji. Waktu dia bilang makasih karena udah diajarin. Saya jadi merasa berguna gitu. Pokoknya seneng. #bingung.

Besoknya saya jadi semangat buat kuliah. Oh iya FYI saya kuliahnya di jurusan yang punya embel-embel PENDIDIKAN. Ah pahamlah maksud saya. Meskipun saya belum bilang kalau saya udah pingin jadi guru tapi yang pasti sekarang saya jadi seneng buat belajar dan menularkan apa yang saya bisa ke orang lain.

Dulu saya paling ga suka dan ga berani kalau disuruh ngisi halaqoh atau yang sejenisnya. Sekarang dikit-dikit udah mulai mencoba, bahkan meski masih takut-takut saya nekat bilang ke Mas Ali (Bos saya di divisi sebuah organisasi yang saya ikuti) kalau biar saya yang megang adik-adik 2013. Juga bilang ke Mas Izar (Partner kerja didivisi yang sama) buat gak usah nyari pendamping buat mereka. “Pokoknya saya dulu aja yang megang. Saya bakal belajar kok. InsyaAllah, boleh ya”. Dengan muka yang masih rada speechless mereka jawab “Coba dari dulu kayak gini, Mbak...mbak...” Walaahhhh.... ternyata. (gantian saya yang spechless). Terimakasih buat kalian yang udah selalu mendukung dan percaya.

Setelah kejadian itu saya mikir. Saya itu punya Allah yang tidak pernah salah dengan ketetapannya. Dia punya sejuta cara untuk memberikan yang terbaik untuk hambanya. Ketika dulu saya tak ingin menjadi seorang guru dan mati-matian belajar untuk jurusan yang saya senangi waktu itu, Allah malah melempar saya kesini. Disatu jurusan dan Universitas yang bahkan secuilpun tak pernah terbesit difikiran saya.

Ketika saya masih bimbang dan benar-benar bimbang, Allah mempertemukan saya dengan Ulil Albab yang luar biasa ini. Ketika saya benar-benar hampir jatuh, Allah kirimkan sebuah pesan bahwa saya diizinkan untuk menjadi anggota keluarga di masjid ini. TMUA. Dipertemukan dengan orang-orang hebat disini. Hingga kaki ini masih kuat melangkah menekan ego untuk terus belajar ditempat ini.

Ketika saya sedikit terjatuh, Allah pertemukan saya dengan teman-teman dari Indonesia Mengajar. Belajar dari mereka yang penuh inspirasi itu. Membuat api semangat saya yang sempat hampir padam, berkobar kembali.

Lalu saya dipertemukan dengan adik cantik, manis, putih tadi. Yang bahkan sekarang saya sudah tidak ingat lagi dia yang mana. Allah mengirimkan sejuta rasa yang kembali membuat saya berfikir. Dan saya selalu percaya Allah tak pernah salah dengan semua ketetapan dan caraNya. Itu PASTI yang terbaik untuk saya.

Allah itu gak pernah berhenti ngasih banyak hadiah, ngasih banyak kejutan buat kehidupan saya.
Hidup saya jadi semakin berwarna, hidup saya jadi semakin indah, hidup saya semakin penuh sama surprise surprise yang Allah kasih, yang bisa bikin saya nangis-nangis saking senengnya.


Hidup itu indah, klo kita selalu bersyukur...
Hidup itu akan semakin di penuhi keberkahan dengan surprise dan hadiah-hadiah yang gak kita sangka dari Allah, karena kita selalu berprasangka baik sama Allah.
Hidup itu berwarna, karena saya selalu punya Allah yg selalu mewarnai hidup saya dengan begitu kerennya :)
Terima Kasih Allah karena selalu berada di sisi saya. :)


Tetap berikan yang terbaik dan jangan bosan untuk terus mengingatkan dan menyemangati dengan caraMu ya.

-Dari hamba-Mu yang sangat-sangat-sangat percaya kepada-Mu
--Vivi


Penutup:
“Boleh jadi apa yang kamu senangi adalah buruk bagimu, sedang yang tidak kamu inginkan mengandung banyak kebaikan didalamnya. Allah tau yang kamu tidak tau. Dan Allah tak pernah salah. Catat itu Vi!!!”
Read more...
separador
Diberdayakan oleh Blogger.

Salam ^__^

Foto saya
Jogjakarta Hadiningrat, Indonesia
Terkadang tulisan seperti diam, adalah pilihan terbaik disaat hati dan lidah lelah untuk berkata.. Welcome In My Abstract Mind... ^^

Categories

Followers